Friday, November 29, 2013

Mungkin



Dinihari...
Menggamit kembali
Saat yang berlalu takkan kembali
Dalam mencari dirimu
Berkali ku tersungkur
Cuba melerai setiap maksud

Belum jelas...
Hadirnya sinarmu
Namun tak pula ku merasa jemu
Dalam pencarian ini
Sungguh aku takut
Andainya aku terbiar hanyut

Apa mungkin...
Jalanku tersasar
Apa mungkin...
Kekhilafan mendera
Jiwa ini tidak kan mampu
Berdiri di depanmu
Andai sinarmu
Tak lagi menyuluh
Hidup...

Menyendiri...
Mengenali erti
Rindu dan kasihmu nan tak bertepi
Mungkin kerana berdosa
Pandanganku kabur
Derai jernih pun menutup mata...

Mungkin nanti...
Pintumu terbuka
Apa mungkin...
Aku bisa melangkah
Harapanku, seandai benar
Ku mohon pimpinanmu
Izinku melangkah
Dengan keyakinan...

Apa mungkin...
Jalanku tersasar
Apa mungkin...
Kekhilafan mendera
Jiwa ini tidak kan mampu
Berdiri di depanmu
Andai sinarmu
Tak lagi menyuluh
Hidup...

Nota :

1. Susah sebenarnya untuk bermain dengan rima dalam membentuk lirik. Ini suatu cabang seni yang masih saya perlu banyak belajar. Bahasa Melayu itu indah, penuh berkias jika pandai diolah.

2. Lirik boleh juga dirujuk dari puisi. Cuma baitnya mestilah kena dengan tempo lagu.

3. Saya cuba untuk menulis lirik tanpa membayangkan maksud tersirat (dalam lagu ini - ketuhanan) secara obvious. Bak kata mat saleh "writing without making a religious statement". Liriknya boleh juga menyentuh tentang perasaan terhadap sesama makhluk. Di sinilah permainan kata-kata menjadi peranan.

Thursday, September 12, 2013

Eulogi buat Nirwan

Nirwan
dari segala apa pun
yang sering aku kenangkan adalah kuntum senyummu
yang lemah dan selalu manis itu;
lembut alun sibak rambutmu
berpendar cahaya
hitam bersulam harum zaitun;
dan matamu yang memelihara derita
aku melihatnya serupa fajar pagi
kau buat basah dan penuh seri;
ya, juga saat terakhir itu Nirwan
dingin genggam tanganmu paling ku ingat
serta kecup bibirmu yang pernah hangat pun tidak aku lupa;

Sebuah ketaatan
mimpi mimpi yang tak nyaris
menghapus dan hilang
Nirwan
kerana kau
rindu adalah serangkai ikebana di
makam cinta kita;

Jika mati
adalah jalan satu satunya
jalan terakhir
jalan yang ada
tak mengapa Nirwan
kerana telah ku wasiatkan
agar nanti kita tidur selahad;

Lalu kenangan pun mendebu
dalam musim yang tak mengenal hujan
Nirwan
sepasang daun kekeringan
gugur di pusara kita
dan cinta pun tak pernah
menumbuh lagi;

Setelah apa pun
aku tahu dan mengerti
dengan sesungguhnya
cinta bukanlah tentang
kebersamaan
tapi matimu Nirwan
tak pernah adil untuk rinduku!

Tuesday, January 15, 2013

SESAL TERSISA

ada kesah cerita di hujung pasar sebuah desa,
bentak hiba seranah cerca dialun pada bait bait hujung kalam pemuisi,
berombak dadanya, mengetap-ngetap bibir amarah tak terzahir,
tumbuk tinju padu dalam kalimah kalimah kecewa,
cemburu dan ragu gusar;
kisah cinta sorong tarik dua polan dan pulanah,
yang tiada nokhtah dan tergantung dan akhirnya
menyiat hati hati sendiri jauh disudut yang dalam;
ada sesal yang tersisa.